Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2021

KELAM

 



Apa yang bisa kurasakan di sudut sunyi?

Hanyalah hampa terus menghampiri.

Aku akan baik-baik saja,

Bersama sendiri dan rasa asing ini.


Aku berusaha melakukan remediasi dengan sepi.

Meski tak berarti,

Aku sedang menjati diri.


Masih kelu rasanya,

Tanganku saling bertaut meminimalisir rasa takut.

Tawa bising itu, terus bertalu-talu di pikiranku.

Singkat tapi berangsur-angsur, memberiku lara.


Katanya aku benalu, ku pikir itu ambigu.

Namun rasanya kian pilu.

Dia mengambil semua atensi, untuk meruntuhkan segala afeksi.

Hingga aku di kubur terlalu dalam, terasa kelam dan begitu suram.


-putrimaharani-

@zeppro

HUJAN SORE MENGHAPUS SENJA

 


Tidak ada semburat jingga.

Hanya gemericik terus menjatuh.

Keduanya sama sama membawa angin.

Sekarang menusuk, kemarin menyejuk.


Tenang, ini sementara.

Langit sedang sedih, mari kita hargai.

Ataukah...

Tanah sedang merajuk, meminta agar tanaman disuburkan?

Walau harus menutup keindahan.


Tidaklah buruk, rintik hujan tanpa malu menyentuh wajahku.

Menusuk kulit ku tanpa ragu-ragu.

Membasuh rasa sedu, menepis segala lesu.

Membongkar peliknya pilu.


Sudahlah, hujan sore tidaklah selalu hadir.

Meskipun suasananya terasa nadir.

Setidaknya mengingatkan ku tentang takdir.


-putrimaharani-

@zeppro

Kamis, 28 Mei 2020

JUMPA KUPENDAM





Liang hati menyimpit hingga menyisakan sedikit ruang.
Namun, kau tetap menjadi kekal dalam lubuk.
Walau tiap kali aku ingin ikut beriringan dengan langkahmu, kau semakin jauh.
Kala aku menatap lekat manikmu, sudah menusuk.
Tetapi, setiap perjumpaan kita. Kau selalu menorehkan sejuk.
Menarik hati untuk selalu jatuh, Mendorongku untuk luluh.
Sunyi dan senyap kini menghampiri, sembari senyum dan sapa kau beri.
Siratan senyu dan tatap sendumu, suling tuk kuartikan.
Terus begitu, kau pekik hingga aku merasa pelik

Rabu, 22 April 2020

TERASA

Pinterest

Untuk


Jumat, 02 Agustus 2019

Metafora

Tertera

Teman Penaku


Kebodohanku, warnamu
begitu indah bila bersatu
waktu berlalu, bersama denganmu
begitu berharga dalam hidupku

merajut cerita, melayangkan harapan
semuanya indah membuahkan kebahagiaan

tidak selalu saling mengerti
berselisih mempertahankan keyakinan diri
bukankah itu yang dinamakan toleransi?
menyisakan berbagai mcamam warna warni.

saling mendukung, membantu tanpa meminta upah
embicarakan sesuatu yang sudah menjadi lumrah
berbagi ribuan pengalaman yang ditenun jadi kisah
bukankah itu cerita kita berdua yang begitu indah?

dibanding puisi ini,
rasa rinduku lebih dari ini
ingin menyaamu secara nyata untuk pertama kali
lebih dari yang aku tuangkan dalam puisi ini


Tersesat

Sabtu, 08 Juni 2019

MENGATUP


Di saat bibir tertahan oleh pilu sembilu.

Memejamkan erat tatap hampa.
Di kala telinga tertua bising-bising sesat.
Mata tetap terpejam dengan pelik bersemayam.
Hati tersayat ketika terdengar kanal yang menukik.
Diam berpura-pura seakan tak tahu.
Padahal nyata, ia saksi bisu dalam gelapnya remang.
Ia mengatupkan segalanya, tentang apayang dipandang.
Ia tercekik oleh tatap tajam nan sinis dari sudut.
Ia masih mengatup dengan raut pasrah nan hampa.
-zpmx- 

Jumat, 10 Mei 2019

ANGIN


Bahkan aku tidak mengerti
Angin membawa daun pergi
Hembusan meninggalkan sakit hati
Dan daunnya pun tak pernah kembali.

Perahu layar mengambang di permukaan
Sang laut membantunya menuju pelabuhan
Dan, angin lembut ikut memberi bantuan
Sang pelayan pun diberi kebahagiaan.

Di malam sunyi
Rembulan menerangi bumi
Angin turut membisikkan diri
Menenangkan jiwa di gelap hari.

Sang angin berbisik padaku
Suatu saat ia akan membawaku,
mencari jawaban atas pertanyaanku
Terbangkan suara agar aku memahamimu.

Rabu, 24 April 2019

"ISAKAN"



Rintik-rintik tertahan akan dalam sembilu.
Memekik nampak cerah,kelabu bersembunyi.
Teriakan membeku dalam hati,hanya tercuat senyuman.
Buliran air mata terlihat walau hanya sekilas.
Tetap tertahan dengan angkuhan.
Membungkam dengan bibir bisu.
Hati semakin menciut dengan hal.
Embun menggempul,belum siap menurunkan rintiknya.
 Keterpurukan,berkesiap menuntut jiwa sesat.
Masih tertahan dengan senyuman.
Senyum seakan penghalau agar tetap terisak.
-zpmx-

Senin, 25 Maret 2019

CANTIK

Raon Lee ><